Rabu, 15 Januari 2014

Menguak fakta tanpa menyalahkan Budaya

Hi guys pernahkah kamu mendapatkan stigma bahwa menjadi LGBTI adalah budaya barat? ternyata banyak lho masyarakat yang mempunyai pemikiran sempit(kuno)seperti ini dan juga kerap menyalahkan LGBTI karena dianggap mengadopsi budaya barat. Yuk kita cari tahu apakah benar stigma yang terjadi pada LGBTI. pernahkah kamu mendengar  kisah pewayangan jawa, srikandi?? Diceritakan bahwa srikandi adalah seorang perempuan, namun karena sabda dewata, ia terlahir sebagai laki-laki. Srikandi tampil sebagai senapati perang Pandawa menggantikan Resi Seta, kesatria Wirata yang telah gugur untuk menghadapi Bisma, senapati agung balatentara Korawa. Dengan panah Hrusangkali, Srikandi dapat menewaskan Bisma. Srikandi sangat gemar dalam olah keprajuritan dan mahir dalam mempergunakan senjata panah. Kepandaiannya tersebut didapatnya ketika ia berguru pada Arjuna yang kemudian menjadi suaminya. arjuna pun tahu bahwa srikandi adalah titisan atau reinkarnasi dari Amba, jadi arjuna tetap jatuh cinta karen srikandi sebenar adalah perempuan walaupun terlahir memiliki penis. jika dikaitkan dengan kehidupan sekarang sosok arjuna bisa disamakan dengan pasangan atau pelanggan waria yang mencintai waria karena sisi perempuan yang ada pada waria tanpa memandang kelamin waria.  selain kisah srikandi tahukah kamu kisah Bissu? Bissu merupakan jejak budaya Bugis pra Islam yang masih tersisa hingga kini.  Fungsi Bissu pada zaman kerajaan adalah sebagai pendeta agama bugis kuno pra-Islam. Kata “Bissu” itu sendiri berasal dari “bessi”, yang berarti bersih.  Waria yang menjadi bissu dianggap suci atau tidak kotor. Disebut demikian karena Bissu tidak berpayudara dan tidak mengalami menstruasi. Selain waria, ada pula “Bissu Perempuan”, yaitu mereka yang menjadi bissu setelah mengalami masa menopause. Panggilan spiritual menjadi bissu yang kemudian mengangkat status sosial dan derajat mereka, paling tidak dalam konteks kekinian mereka “bukan sembarang waria, tetapi waria sakti”. Selain itu pernahkah kamu tahu mengenai kisah warok dan gemblak dalam tradisi reog ponorogo? Dalam kaitannya dengan kebudayaan reog yang berasal dari Ponorogo, selalu terkait dengan keberadaan warok di dalamnya. Bicara soal warok, maka tak terlepas pula dari praktek pergemblakan yang dijalani para warok. Gemblak adalah seorang bocah laki-laki  yang dijadikan “anak asuh” oleh seorang warok karena umumnya para warok tersebut tidak menikah. Untuk mendapatkan seorang gemblak, biasanya ada seorang Mak Comblang mblusuk ke pedesaan untuk mencari seorang anak lelaki yang tampan. Setelah ditemukan, maka anak tersebut akan dilamar kepada orang tuanya, lalu orang tua si anak akan menerima sejumlah uang, ternak, atau yang lainnya sebagai ikatan pergemblakan. Biasanya mereka pun akan menerima bantuan hidup dari sang warok setiap bulannya hingga perjanjian pergemblakan itu berakhir. Meski banyak para orang tua yang dengan suka cita anak mereka dijadikan gemblak, namun banyak pula dari mereka yang terpaksa menjalaninya karena himpitan ekonomi yang semakin kuat menjepit. seiring dengan berkembangnya ajaran agama mayoritas di indonesia (Islam,katolik dan kristen protestan),semakin mendeskriditkan warisan budaya bangsa indonesia seperti legenda srikandi bissu dan warrok/gemblak karena dibentrokkan dengan nilai-nilai ajaran agama tersebut sehingga kisah atau legenda ini tidak dihargai dan akan punah.Dari tiga kisah di atas cukup mewakili bahwa LGBTI bukan adopsi budaya barat tetapi sudah ada sejak dahulu kala dan diakui serta dihargai oleh masyarakat. nah sekarang kamu sudah tahu kan bahwa menjadi LGBTI itu bukan adopsi budaya barat. jadi kalau kamu masih menganggap LGBTI adalah budaya barat berarti kamu salah dan tergolong dalam orang-orang yang berpikiran sempit(kuno) SO be aware, be respect,be smart yah dalam menyikapi sebuah permasalahan atau pandangan yang salah


Tidak ada komentar:

Posting Komentar