Hi guys pernahkah kamu mendapatkan stigma bahwa menjadi LGBTI adalah
budaya barat? ternyata banyak lho masyarakat yang mempunyai pemikiran
sempit(kuno)seperti ini dan juga kerap menyalahkan LGBTI karena dianggap
mengadopsi budaya barat. Yuk kita cari tahu apakah benar stigma yang
terjadi pada LGBTI. pernahkah kamu mendengar kisah
pewayangan jawa, srikandi?? Diceritakan bahwa srikandi adalah seorang
perempuan, namun karena sabda dewata, ia terlahir sebagai laki-laki.
Srikandi tampil sebagai senapati perang Pandawa menggantikan Resi Seta,
kesatria Wirata yang telah gugur untuk menghadapi Bisma, senapati agung
balatentara Korawa. Dengan panah Hrusangkali, Srikandi dapat menewaskan
Bisma. Srikandi sangat gemar dalam olah keprajuritan dan mahir dalam
mempergunakan senjata panah. Kepandaiannya tersebut didapatnya ketika ia
berguru pada Arjuna yang kemudian menjadi suaminya. arjuna pun tahu
bahwa srikandi adalah titisan atau reinkarnasi dari Amba, jadi arjuna
tetap jatuh cinta karen srikandi sebenar adalah perempuan walaupun
terlahir memiliki penis. jika dikaitkan dengan kehidupan sekarang sosok
arjuna bisa disamakan dengan pasangan atau pelanggan waria yang
mencintai waria karena sisi perempuan yang ada pada waria tanpa
memandang kelamin waria. selain kisah srikandi tahukah kamu kisah
Bissu? Bissu merupakan jejak budaya Bugis pra Islam yang masih tersisa
hingga kini. Fungsi Bissu pada zaman kerajaan adalah
sebagai pendeta agama bugis kuno pra-Islam. Kata “Bissu” itu sendiri
berasal dari “bessi”, yang berarti bersih. Waria yang
menjadi bissu dianggap suci atau tidak kotor. Disebut demikian karena
Bissu tidak berpayudara dan tidak mengalami menstruasi. Selain waria,
ada pula “Bissu Perempuan”, yaitu mereka yang menjadi bissu setelah
mengalami masa menopause. Panggilan spiritual menjadi bissu yang
kemudian mengangkat status sosial dan derajat mereka, paling tidak dalam
konteks kekinian mereka “bukan sembarang waria, tetapi waria sakti”.
Selain itu pernahkah kamu tahu mengenai kisah warok dan gemblak dalam
tradisi reog ponorogo? Dalam kaitannya dengan kebudayaan reog yang
berasal dari Ponorogo, selalu terkait dengan keberadaan warok di
dalamnya. Bicara soal warok, maka tak terlepas pula dari praktek
pergemblakan yang dijalani para warok. Gemblak adalah seorang bocah
laki-laki yang dijadikan “anak asuh” oleh seorang warok karena umumnya
para warok tersebut tidak menikah. Untuk mendapatkan seorang gemblak,
biasanya ada seorang Mak Comblang mblusuk ke pedesaan untuk mencari
seorang anak lelaki yang tampan. Setelah ditemukan, maka anak tersebut
akan dilamar kepada orang tuanya, lalu orang tua si anak akan menerima
sejumlah uang, ternak, atau yang lainnya sebagai ikatan pergemblakan.
Biasanya mereka pun akan menerima bantuan hidup dari sang warok setiap
bulannya hingga perjanjian pergemblakan itu berakhir. Meski banyak para
orang tua yang dengan suka cita anak mereka dijadikan gemblak, namun
banyak pula dari mereka yang terpaksa menjalaninya karena himpitan
ekonomi yang semakin kuat menjepit. seiring dengan berkembangnya ajaran
agama mayoritas di indonesia (Islam,katolik dan kristen
protestan),semakin mendeskriditkan warisan budaya bangsa indonesia
seperti legenda srikandi bissu dan warrok/gemblak karena dibentrokkan
dengan nilai-nilai ajaran agama tersebut sehingga kisah atau legenda ini
tidak dihargai dan akan punah.Dari tiga kisah di atas cukup mewakili
bahwa LGBTI bukan adopsi budaya barat tetapi sudah ada sejak dahulu kala
dan diakui serta dihargai oleh masyarakat. nah sekarang kamu sudah tahu
kan bahwa menjadi LGBTI itu bukan adopsi budaya barat. jadi kalau kamu
masih menganggap LGBTI adalah budaya barat berarti kamu salah dan
tergolong dalam orang-orang yang berpikiran sempit(kuno) SO be aware, be
respect,be smart yah dalam menyikapi sebuah permasalahan atau pandangan
yang salah



Tidak ada komentar:
Posting Komentar