Rabu, 15 Januari 2014

Mari Mengenal Waria

Siapakah Waria? Dari hasil Pertemuan Nasional Waria di Jakarta 2012 yang dihadiri oleh perwakilan Komunitas Waria dan Organisasi Waria di Indonesia ,telah diputuskan bahwa Waria adalah Seseorang  yang secara biologis terlahir sebagai laki-laki, tetapi memiliki perasaan, pikiran dan/atau perbuatan dan/atau tingkah laku dan/atau penampilan dan/atau berperan jender sebagai perempuan.

Dari definisi diatas, jelas sekali bahwa menjadi seorang waria bukan dilihat dari penampilannya, tetapi juga bisa dilihat dari perasaan dan peran jender yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dari definisi yang telah disepakati bersama dalam PerNas Waria, sangat mengakomodir waria yang memiliki perasaan dan berperan jender perempuan tetapi masih berpenampilan seperti "laki-laki" (rambut pendek, tanpa make up, tidak memiliki payudara yang besar dll.).

Banyak sekali sebutan untuk waria di daerah di seluruh Indonesia, contohnya seperti Calabai, Wadam, Binan, Bes dan lain-lain. Namun ada dua buah istilah yang sangat sensitif untuk dijadikan sapaan bagi waria, yaitu “Banci” dan “Bencong” karena menurut komunitas waria sebutan itu sangat bermakna negatif. Dimana kata Banci atau Bencong sering digunakan untuk seseorang yang pengecut atau penakut.Nah untuk itu jika kamu ingin memanggil waria panggil saja Mba atau kakak. Waria akan menghargai kamu jika kamu menghargai diri mereka.
Dalam kehidupan sehari-hari, waria cenderung hidup dalam satu komunitas(walaupun ada beberapa yang tinggal sendiri atau hidup bersama keluarganya).

Waria yang hidup dalam suatu komunitas rata-rata dikerenakan mencari figur orang tua (emak-emakan/ mami-mamian) sebagai pelindung atau pembimbingnya, hal ini disebabkan banyak sekali waria yang mendapat tindakan kekerasan baik verbal dan non-verbal dari keluarga, masyarakat atau di lingkungan sekolah.

Banyak waria yang berlatar belakang pendidikan rendah dikarenakan saat ingin mengakses pendidikan formal mereka selalu dihantui oleh stigma dan tindakan kekerasan lainya dari murid disekolah bahkan gurunya, banyak juga waria yang akhirnya putus sekolah karena tidak tahan dengan berbagai tekanan dari lingkungan sekolah sehingga dengan berlatar belakang pendidikan rendah atau sumber daya manusia yang terbatas membuat kebanyakan waria berprofesi sebagai pekerja seks, pengamen jalanan atau paling banter jadi pekerja salon. Dengan demikian posisi waria sangat rentan terhadap penularan IMS, HIV/AIDS serta mendapat tindakan kekerasan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar