Siapakah Waria? Dari hasil Pertemuan Nasional Waria di Jakarta 2012
yang dihadiri oleh perwakilan Komunitas Waria dan Organisasi Waria di
Indonesia ,telah diputuskan bahwa Waria adalah Seseorang yang secara
biologis terlahir sebagai laki-laki, tetapi memiliki perasaan, pikiran
dan/atau perbuatan dan/atau tingkah laku dan/atau penampilan dan/atau
berperan jender sebagai perempuan.
Dari definisi diatas,
jelas sekali bahwa menjadi seorang waria bukan dilihat dari
penampilannya, tetapi juga bisa dilihat dari perasaan dan peran jender
yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dari definisi yang telah
disepakati bersama dalam PerNas Waria, sangat mengakomodir waria yang
memiliki perasaan dan berperan jender perempuan tetapi masih
berpenampilan seperti "laki-laki" (rambut pendek, tanpa make up, tidak
memiliki payudara yang besar dll.).
Banyak sekali sebutan
untuk waria di daerah di seluruh Indonesia, contohnya seperti Calabai,
Wadam, Binan, Bes dan lain-lain. Namun ada dua buah istilah yang sangat
sensitif untuk dijadikan sapaan bagi waria, yaitu “Banci” dan “Bencong”
karena menurut komunitas waria sebutan itu sangat bermakna negatif.
Dimana kata Banci atau Bencong sering digunakan untuk seseorang yang
pengecut atau penakut.Nah untuk itu jika kamu ingin memanggil waria panggil saja Mba atau kakak. Waria akan menghargai kamu jika kamu menghargai diri mereka.
Dalam kehidupan sehari-hari, waria
cenderung hidup dalam satu komunitas(walaupun ada beberapa yang tinggal
sendiri atau hidup bersama keluarganya).
Waria yang hidup
dalam suatu komunitas rata-rata dikerenakan mencari figur orang tua
(emak-emakan/ mami-mamian) sebagai pelindung atau pembimbingnya, hal ini
disebabkan banyak sekali waria yang mendapat tindakan kekerasan baik
verbal dan non-verbal dari keluarga, masyarakat atau di lingkungan
sekolah.
Banyak waria yang berlatar belakang pendidikan
rendah dikarenakan saat ingin mengakses pendidikan formal mereka selalu
dihantui oleh stigma dan tindakan kekerasan lainya dari murid disekolah
bahkan gurunya, banyak juga waria yang akhirnya putus sekolah karena
tidak tahan dengan berbagai tekanan dari lingkungan sekolah sehingga
dengan berlatar belakang pendidikan rendah atau sumber daya manusia yang
terbatas membuat kebanyakan waria berprofesi sebagai pekerja seks,
pengamen jalanan atau paling banter jadi pekerja salon. Dengan demikian
posisi waria sangat rentan terhadap penularan IMS, HIV/AIDS serta
mendapat tindakan kekerasan



Tidak ada komentar:
Posting Komentar