Kamis, 10 April 2014

World Professional Assosiation on Transgender Health (WPATH)



Sebagai sebuah organisasi profesional internasional interdisipliner, Asosiasi Profesional Dunia untuk Kesehatan Transgender ( WPATH ) bekerja untuk lebih memahami dan pengobatan gangguan identitas gender oleh para profesional di bidang kedokteran , psikologi , hukum , pekerjaan sosial , konseling , psikoterapi , studi keluarga , sosiologi , antropologi , seksologi , terapi bicara dan suara , dan bidang terkait lainnya. WPATH memberikan kesempatan bagi para profesional dari berbagai sub - spesialisasi untuk berkomunikasi satu sama lain dalam konteks penelitian termasuk mensponsori simposium ilmiah dua tahunan. WPATH menerbitkan Standar Perawatan dan Pedoman Etika, yang mengartikulasikan konsensus profesional tentang pengelolaan psikiatris , psikologis , medis, dan bedah dan bantuan profesional memahami parameter bagi transgender dan  menawarkan bantuan kepada transgender

WPATH bertujuan untuk mempertemukan para profesional yang beragam didedikasikan untuk mengembangkan praktik terbaik dan kebijakan yang mendukung seluruh dunia yang mempromosikan kesehatan,penelitian,pendidikan ,saling menghargai martabat dan kesetaraan bagi transgender , transeksual , dan varian gender lainya dalam semua pengaturan budaya.
Dalam symposium WPATH 2014, banyak delegasi dari professional kesehatan dan aktifis yang menghadiri kegiatan ini. Banyak sekali informasi dan hal – hal baru yang dipelajari selama mengikuti sesi dalam 5 hari di symposium ini. Mulai dari informasi mengenai standar pemberian cross-sex hormonal therapy,dosis,efek,jangka waktu/periode pemberian terapi hormone untuk transman dan transwoman, serta informasi mengenai metode dan teknik dalam operasi penggantian kelamin,operasi pita suara, dan operasi wajah untuk transwoman dan transman. Dari semua informasi yang diperoleh, informasi yang sangat penting untuk diimplementasikan dan di share kepada komunitas transgender adalah standar perawatan cross-sex hormonal therapy karena melihat situasi komunitas transgender di Indonesia yang sangat sulit untuk mendapatkan informasi komprehensif tentang therapy hormone karena sulitnya menemukan referensi tenaga kesehatan yg dapat memberikan informasi dan memberikan perawatan therapy hormone dan kalaupun ada harganya sangat mahal dan tidak terjangkau. Kondisi seperti ini akhirnya membuat transgender di Indonesia khususnya transwoman (waria) membeli pil kb/ hormone yg ada di apotik dan pasar gelap, tanpa mengetahui jenis hormone,dosis,jangka waktu / periode mengkonsumsi hormone. Mereka hanya mengetahui informasi dari teman sebaya atau senior bahwa dengan mengkonsumsi pil kb/ hormone akan membuat dirinya menjadi lebih feminine.beberapa contah pil atau injeksi yang sering digunakan waria adalah : Androcore, Diane ,Proluton dan progynon, phinokinon, andalan dll. Informasi mengenai operasi penggantian kelamin,operasi payudara,operasi pita suara dan operasi wajah untuk saat ini tidak terlalu dibutuhkan karena biayanya sangat mahal dan rata-rata kondisi financial waria di Indonesiaadalah menengah kebawah,  namun semua informasi ini akan tetap akan di share,disesuaikan dengan kebutuhan komunitas. Selain itu diikuti dengan sesi mengetahui budaya, legalitas dan lingkungan sosial di Tonga and the Pacific, Jepang, Thailand, Philiphine, China, India dan Nepal. Dari semua hasil presentasi dapat diambil kesimpulan bahwa kondisi stigma dan diskriminasi serta prevelensi HIV pada komunitas transgender di negara asia pasifik memiliki kesamaan namun dalam akses layanan kesehatan dan public service di Thailand lebih mengakomodir kebutuhan komunitas transgender. Selain itu ada sesi mengenai manfaat physical therapy untuk kesehatan transgender. Dimana peran fisoterapi cukup penting dalam memberikan perawatan pre dan post operasi penggantian kelamin,dan operasi lainya. Serta manfaat Elektro sumber fisis dari TENS( transcutaneus electrical neuro slimulation),US(ultrasound therapy),Dhiatermi (SWD dan MWD) IR (infrared rays) serta beberapa alat terapi lainya dan teknik manual therapy dalam mengurangi nyeri pasca pre dan post operasi, serta melakukan perawatan kecantikan dengan memanfaatkan elektro sumber fisis.

 Pada hari terakhir beberapa representative komunitas transgender mengikuti interview dan pengambilan video serta foto session yang di adakan oleh UNAIDS. Sungguh pengalaman yang sangat luar biasa berbagi pengalaman dan ilmu pengetahuan dengan para professional kesehatan dan teman- teman representative  transgender selama 5 hari  di symposium  international WPATH Bangkok – Thailand. Semoga semua file dan informasi yang diperoleh di WPATH dapat bermanfaat bagi komunitas transgender di Indonesia dan kebutuhan komunitas transgender akan jaringan tenaga kesehatan yang mengakomodir kesehatan transgender dapat terealisasikan.




 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar