Sebagai sebuah
organisasi profesional internasional interdisipliner, Asosiasi
Profesional Dunia untuk Kesehatan Transgender ( WPATH ) bekerja untuk lebih
memahami dan pengobatan gangguan identitas gender oleh para profesional di
bidang kedokteran , psikologi , hukum , pekerjaan sosial , konseling ,
psikoterapi , studi keluarga , sosiologi , antropologi , seksologi , terapi
bicara dan suara , dan bidang terkait lainnya. WPATH memberikan kesempatan bagi para profesional dari
berbagai sub - spesialisasi untuk berkomunikasi satu sama lain dalam konteks
penelitian termasuk mensponsori
simposium ilmiah dua tahunan.
WPATH
menerbitkan Standar Perawatan dan Pedoman Etika, yang mengartikulasikan konsensus profesional tentang
pengelolaan psikiatris , psikologis , medis, dan bedah dan bantuan profesional memahami parameter bagi transgender dan menawarkan bantuan kepada transgender
WPATH bertujuan untuk
mempertemukan para profesional yang beragam didedikasikan untuk mengembangkan
praktik terbaik dan kebijakan yang mendukung seluruh dunia yang mempromosikan
kesehatan,penelitian,pendidikan ,saling menghargai
martabat dan kesetaraan bagi transgender , transeksual , dan varian
gender lainya dalam semua pengaturan budaya.
Dalam symposium WPATH
2014, banyak delegasi dari professional kesehatan dan aktifis yang menghadiri kegiatan
ini. Banyak sekali informasi
dan hal – hal baru yang dipelajari selama mengikuti sesi dalam 5 hari di
symposium ini. Mulai dari informasi mengenai standar pemberian cross-sex
hormonal therapy,dosis,efek,jangka waktu/periode pemberian terapi hormone untuk
transman dan transwoman, serta informasi mengenai metode dan teknik dalam
operasi penggantian kelamin,operasi pita suara, dan operasi wajah untuk
transwoman dan transman. Dari semua informasi yang diperoleh, informasi yang sangat
penting untuk diimplementasikan dan di share kepada komunitas transgender
adalah standar perawatan cross-sex hormonal therapy karena melihat situasi
komunitas transgender di Indonesia yang sangat sulit untuk mendapatkan
informasi komprehensif tentang therapy hormone karena sulitnya menemukan
referensi tenaga kesehatan yg dapat memberikan informasi dan memberikan
perawatan therapy hormone dan kalaupun ada harganya sangat mahal dan tidak
terjangkau. Kondisi seperti ini akhirnya membuat transgender di Indonesia
khususnya transwoman (waria) membeli pil kb/ hormone yg ada di apotik dan pasar
gelap, tanpa mengetahui jenis hormone,dosis,jangka waktu / periode mengkonsumsi
hormone. Mereka hanya mengetahui informasi dari teman sebaya atau senior bahwa
dengan mengkonsumsi pil kb/ hormone akan membuat dirinya menjadi lebih
feminine.beberapa contah pil atau injeksi yang sering digunakan waria adalah : Androcore, Diane ,Proluton dan progynon, phinokinon, andalan dll. Informasi mengenai operasi penggantian kelamin,operasi payudara,operasi
pita suara dan operasi wajah untuk saat ini tidak terlalu dibutuhkan karena
biayanya sangat mahal dan rata-rata kondisi financial waria di Indonesiaadalah
menengah kebawah, namun semua informasi
ini akan tetap akan di share,disesuaikan dengan kebutuhan komunitas. Selain itu
diikuti dengan sesi mengetahui budaya, legalitas dan lingkungan sosial di Tonga
and the Pacific, Jepang, Thailand, Philiphine, China, India dan Nepal. Dari
semua hasil presentasi dapat diambil kesimpulan bahwa kondisi stigma dan
diskriminasi serta prevelensi HIV pada komunitas transgender di negara asia
pasifik memiliki kesamaan namun dalam akses layanan kesehatan dan public
service di Thailand lebih mengakomodir kebutuhan komunitas transgender. Selain
itu ada sesi mengenai manfaat physical therapy untuk kesehatan transgender.
Dimana peran fisoterapi cukup penting dalam memberikan perawatan pre dan post
operasi penggantian kelamin,dan operasi lainya. Serta manfaat Elektro sumber
fisis dari TENS( transcutaneus electrical neuro slimulation),US(ultrasound
therapy),Dhiatermi (SWD dan MWD) IR (infrared rays) serta beberapa alat terapi
lainya dan teknik manual therapy dalam mengurangi nyeri pasca pre dan post
operasi, serta melakukan perawatan kecantikan dengan memanfaatkan elektro sumber
fisis.
Pada hari terakhir beberapa
representative komunitas transgender mengikuti interview dan pengambilan video
serta foto session yang di adakan oleh UNAIDS. Sungguh pengalaman yang sangat
luar biasa berbagi pengalaman dan ilmu pengetahuan dengan para professional
kesehatan dan teman- teman representative
transgender selama 5 hari di
symposium international WPATH Bangkok –
Thailand. Semoga semua file dan informasi yang diperoleh di WPATH dapat
bermanfaat bagi komunitas transgender di Indonesia dan kebutuhan komunitas
transgender akan jaringan tenaga kesehatan yang mengakomodir kesehatan
transgender dapat terealisasikan.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar